Riwayat Hidup

Friday, 5 November 2010   ·   No Comments
kangnasir
Nasir dilahirkan 42 tahun lalu di Desa Mirat Kecamatan Leuwimunding Kab. Majalengka, sebuah desa kecil di kaki gunung Sanghiyang Dora. Lahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara putra pasangan K. Salim Amin dan Hj. Ijah Khadijah. Semasa kecil, Nasir menghabiskan waktunya untuk belajar agama kepada sang ayah.
Memasuki usia sekolah, Nasir masuk di SD Inpres Widarasari Mirat, siangnya belajar agama di MI Sabilul Chalim Leuwimunding dan malamnya belajar agama kepada kakak misannya Ust. Abdul Karim selama 2 tahun kemudian pindah belajar ke pamannya K. Zainuddin selama 3 tahun dan pindah lagi ke paman laiinya KH. Abdul Rosyad di Ponpes Nur Qiyam Dukuh Asih Parungjaya selama 4 tahun bersamaan dengan lulus dari MTs Sabilul Chalim Leuwimunding.
Setamat dari MTs, mulailah Nasir melakukan pengembaraan ke wilayah Jawa Timur. Pondok Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur adalah tempat yang ia pilih untuk memperdalam ilmu agamanya sekaligus melanjutkan studinya ke MAN Tambakberas. Di Pondok inilah bakat dan minatnya dalam berorganisasi mulai tumbuh subur dan berkembang. Tahun kedua dan ketiga di pondok ini beberapa jabatan telah dipikulnya, antara lain sekretaris IKSAJABA (Ikatan Santri Jawa Barat), Wakil Ketua OSIS MAN Tambakberas, Wakil Ketua KPMBU (Keluarga Pelajar Madrasah Bahrul Ulum/semacam indukbagi seluruh OSIS yg ada di Tambakberas) dan menjadi panitia inti dalam event-event besar di pondoknya.

 

Lulus dari MAN Tambakberas sejatinya Nasir menginginkan untuk melanjutkan studinya ke LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) di Jakarta, sebuah Perguruan Tinggi yang dibiayai Pemerintah Arab Saudi dan memberikan bea siswa  kepada seluruh mahasiswanya. Namun keluarganya tidak mengizinkan untuk melanjutkan kuliah terlebih dahulu sebelum mampu menguasai kitab kuning. Maka Nasir kembali lagi ke naungan pondok pesantren. Kali ini Ponpes Al-Ishlah Lasem Rembang Jateng yang menjadi tujuannya. Sebuah ponpes salaf yang mengedepankan ilmu Fiqih Tasawuf dan Ilmu ‘alat (gramatika bahasa arab, semacam nahwu, shorof, balaghoh, mantiq dan arudl). Tiga tahun Nasir digembleng di pondok asuhan Syekh KH. Hakim Masduqi ini.

 

Dipandang telah mumpuni dalam penguasaaan agama dan kitab kuning, akhirnya keluarga mengizinkan Nasir untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Awalnya Nasir mengira akan diizinkan untuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga atau di UGM sebagaimana yang dia idolakan. Ternyata keluarganya malah memasukkan Nasir ke Perguruan Tinggi Al-Khoziny Buduran Sidoarjo Jatim. Sebuah perguruan tinggi baru yang berada di lingkungan Pondok Pesantren asuhan KHR. Abdul Mujib Abbas. Jadilah Nasir kembali menjadi santri lagi.

 

Di Pondok barunya ini, minat dan bakat Nasir dalam berorganisasi yang selama di ponpes Lasem terpendam  kembali muncul. Kemampuan dalam mengelola organisasi yang dipadu dengan kemampuan keilmuan agama yang mumpuni menarik perhatian santri-santri senior serta para pengasuh dan pengelola pendidikan di sana. Tak heran, baru satu tahun hidup di pondok ini, Nasir sudah dipercaya untuk mengajar di MI Al-Khoziny, Kepala MTs Al-Khoziny dan kepala Pondok. Jabatan-jabatan tersebut terbilang prestisius bagi para santri, karena biasanya hanya santri yang sudah mondok paling tidak 6 tahun yang dapat menduduki tugas tersebut.Di bangku kuliah juga Nasir mencoba menerapkan pola organisasi modern. Maklum kala itu, mahasiswa Al-Khoziny masih mayoritas berasal dari santri pondok yang masih awam dalam mengelola organisasi. Maka pada tahun kedua, saat duduk di semester III Nasir mempelopori  berdirinya Senat Mahasiswa Al-Khoziny. Dan ia menjadi Ketua Umum pertamanya di organisasi intra kampus tersebut. Tak puas dengan organisasi intra kampus, Nasir kemudian berkoordinasi dengan PMII Jawa Timur (karena saat itu belum ada PMII Cabang Sidoarjo) untuk kemudian mendirikan Komisariat PMII Al-Khoziny. Dan lagi-lagi Nasir didaulat menjadi Ketua Umumnya.

 

Saat memegang ketiga jabatan itulah (Kepala pondok, Ketum Senat dan PMII) atas ijin dan restu Pengasuh Ponpes, KHR. Abdul Mujib Abbas, Nasir  memobilisasi santri dan mahasiswa untuk melakukan demo besar-besaran bersama-sama komponen masyarakat lainnya menuntut penutupan SDSB. Sasarannya adalah Gedung DPRD Sidoarjo dan Pendopo Bupati Sidoarjo. Kemampuan Nasir dalam berorasi dan menggalang massa ini menarik perhatian para aktifis dan tokoh Kabupaten Sidoarjo. Maklum saat itu masih zaman Orde Baru yang membutuhkan keberanian mental untuk dapat turun ke jalan.  Dari sinilah, Nasir mulai berkenalan dengan mereka dan melakukan diskusi-diskusi sosial politik. Dari perkenalannya itu, Nasir mempelopori berdirinya PMII Sidoarjo dan dia diaulat sebagai salah satu ketuanya. Di samping itu, Nasir juga mendirikan forum diskusi lintas perguruan tinggi yang ada di Sidoarjo.

 

Kesibukannya dalam berorganisasi tidak lantas mengurangi prestasi belajarnya di bangku kuliah. Nasir Lulus tepat waktu (4 Tahun) dengan menyandang predikat memuaskan dengan IP 3,6. Selama kuliah, Nasir juga sudah berhasil mendapatkan uang tambahan sampingan untuk membiayai kuliahnya. Antara lain dari tugas mengajar di madrasah pondok, menjadi pembicara di forum-forum diskusi SLTA dan perguruan tinggi, membuat artikel/kolom di berbagai mas media, membuat buku-buku saku, resume dan buletin bagi mahasiswa, membantu pembuatan makalah dan skripsi, membuat buku-buku terjemah bahasa arab, dan dari jasa pengetikan komputer.

 

Selepas lulus dari kuliah di Al-Khoziny, Nasir mempersunting gadis pujaannya, Oyah Ruqoyah dan bermukim di desa kelahiran, Desa Mirat. Untuk membiayai hidup, Nasir mengajar di beberapa sekolah swasta sambil sesekali membantu pembuatan skripsi bagi mahasiswa. Semula Nasir diminta oleh rektornya Drs. KH. Asep Saefuddin Chalim, MA.  untuk bermukim di Surabaya. Pak Asep, demikian panggilan akrabnya, memintanya untuk mengelola MTs Plus Amanatul Ummah, sebuah lembaga baru di bawah naungan yayasan Amanatul Umah Siwalankerto Surabaya. Pak Asep juga memberikan porsi untuk ikut mengajar di Perguruan Tinggi Al-Khoziny. Secara materi hidup di Surabaya lebih menjanjikan daripada hidup di desa. Di Surabaya atau di Sidoarjo peluang-peluang usaha sudah terbuka, karena memang sudah dirintis semenjak menjadi mahasiswa. Berbeda dengan hidup di desa yang hanya mengandalkan honor mengajar yang nilainya tidak seberapa. Namun ada hal lain yang mendorong Nasir lebih memilih hidup di kampung halamannya, yaitu kepuasan batin. Bagi Nasir, hidup di negeri orang tidak akan membawa kepuasan batin walaupun secara materi tercukupi. Ia ingin ilmu yang diperolehnya selama 12 tahun di pengembaraan dapat dirasakan mamfaatnya oleh masyarakat  daerah kelahirannya sendiri. Itulah kepuasan batin yang diidam-idamkannya.

 

Benar saja, tahun pertama hidup di tanah kelahirannya, Nasir sudah melakukan terobosan-terobosan di masyarakatnya. Nasir mempelopori beridirinya LBM (Lajnah Bahtsul Masail/semacam forum diskusi keagamaan) Nahdlatul Ulama Kecamatan Leuwimunding. Dari kegiatan LBM ini akhirnya NU Kecamatan Leuwimunding menjadi NU yang paling aktif se-kabupaten Majalengka. Nasir juga mempelopori pengelolaan Masjid Jami’ Desa dengan sistem organisasi yang baik dan sesuai dengan norma-norma hukum agama. Maka berdirilah DKM (Dewan Keluarga Masjid) Baiturrahman. Di Bidang Pendidikan, Nasir mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda yang membawahi RA, MA, MDW dan Pesantren plus.

 

Seiring dengan arus reformasi  nasional dan berdirinya partai yang dilahirkan oleh PBNU yaitu  PKB (Partai kebangkitan Bangsa), maka pada Pemilu tahun 1999 Nasir menjatuhkan pilihannya kepada partai berlambang  bintang sembilan ini. Atas dorongan dari sesepuh dan pengurus NU Kecamatan Leuwimunidng serta ranting-ranting PKB se-kecamatan Leuwimunding, Nasir yang semula tidak punya minat untuk terjun bebas di dunia politik, akhirnya ikut di dalamnya sebagai salah seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Majalengka. Dan Allah menghendaki Nasir terpilih duduk menjadi Anggota DPRD Kabupaten Majalengka tahun 1999. Pada Pemilu 2004 dan 2009, Nasir kembali terpilih menjadi anggota dewan dengan meraih suara terbanyak. Untuk periode ketiganya, Nasir berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPRD Majalengka. Selanjutnya,pada Pemilu 2014 Nasir kembali terpilih menjadi Anggota DPRD. Kali ini dia ‘naik pangkat’ menjadi Anggota DPRD Propinsi Jawa Barat. Sebuah jabatan yang sama sekali tidak pernah ada dalam cita-citanya, seorang santri malah menjadi anggota dewan. Demikian riwayat hidup singkat Nasir…wallahu a’lam…!

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

4,967 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE